Senja Jakarta
Rabu, 10 Januari 2008
Lembayung jingga tampak mengangkasa sore itu. Setelah satu bulan penuh Jakarta terguyur oleh derasnya hujan, akhirnya ada juga lukisan langit yang dapat dinikmati saat itu. Setidaknya masih ada yang sesuatu yang indah di balik kerasnya Jakarta.
Beberapa anak tangga telah kulewati. Aku sedang mencari cahaya ke atas. Tepatnya ke atas atap. Tempat tertinggi dirumah ini (tentu saja..). Setelah tangga, tampaknya genting rumahku yang berwarna coklat tua. Kalau ditarik garis vertikal, tinggi genting rumahku dari permukaan tanah itu sekitar 5 meter. Cukup potensial untuk menimbulkan luka dalam, patah tulang, perdarahan, atau (yang lebih parah) kematian jika aku jatuh dari atas. Kalo ngga nggelinding di turunan genting atau ya langsung jeblos ke bawah. Begitu beresikonya hal yang kulakukan ini.
Sekarang tinggal menapaki susunan genting satu persatu. Yang aku lihat hanya pucuk atap ditemani antena TV ku yang sudah 8 tahun ngga pernah diturunkan karena parabola lebih berkuasa. "Ah, ngga usah basa-basi", kataku dalam hati. Aku memanjat genting itu.
Yak, akhirnya sampai juga dipuncak. Senang, riang, hari yang kunantikan. Tampaklah wajah Jakarta Selatan sore itu. Di timur tampak beberapa gedung perkantoran yang bercahanya memantulkan cahaya mentari di ufuk barat. Menara Mulia adalah salah satunya. Sebaliknya, matahari sedang bergegas kembali ke pelukan malam saat itu. Jingga adalah warna yang dipilihnya, menampilkan kelembutan dan kehangatan yang ternyata matahari punya. Di utara, langit terbagi dua; merah muda dan biru dipisahkan oleh sirus yang tampak seperti bekas-bekas sapu lidi menyapu langit.
Benar-benar pembuka malam yang indah! Terdengar adzan berkumandang dari segala penjuru. Aku masih menikmati udara sore itu. Foto-foto sendirian bak pendaki yang baru sampai puncak gunung. Foto-foto. Dan foto. Hingga akhirnya kakiku sukses tergores genting yang pecah. Sial! Sok pasti langsung keluar kecap! Ah, aku tak ambil pusing. Foto-foto terus kulanjutkan. Matahari sudah ditelan bumi. Jingga pun tergantikan oleh ungu. Muram dan seterusnya menuju kelam. Tanpa sadar kakiku sudah mengeluarkan beratus-ratus ton kecap! Ternyata musibahnya bukan nggelinding ke bawah, ataupun jeblos terjun bebas, tetapi si genting kecil yang sukses membuat kawah di kakiku.
Jelas sudah, saatnya untuk turun. Tentu saja dengan satu kaki diperbantukan oleh pantat sialan ini. Usai sudah cerita sore itu. Jakarta ternyata masih ada kecantikannya. Di antara waktu, cuaca dan penantian manusianya. Senja di Jakarta kita.